Fungsi Pendidikan Perdamaian dalam PAI pada Konteks Multikultural: Tinjauan PRISMA atas Studi Empiris Indonesia dan Asia Tenggara
DOI:
https://doi.org/10.69901/51m40y64Keywords:
pendidikan perdamaian, PAI, multikultural, PRISMA, Asia Tenggara, wasathiyahAbstract
Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia dan Asia Tenggara menghadapi tantangan paradoksal dalam konteks masyarakat multikultural: di satu sisi, PAI memiliki potensi besar untuk menanamkan nilai-nilai perdamaian; di sisi lain, praktiknya sering kali terjebak pada pendekatan tekstual-doktrinal yang berpotensi memperkuat eksklusivisme. Tinjauan sistematis ini bertujuan memetakan fungsi pendidikan perdamaian dalam PAI berdasarkan studi empiris Indonesia dan Asia Tenggara. Menggunakan protokol PRISMA 2020, penelusuran dilakukan pada basis data Scopus, Web of Science, dan Garuda dengan rentang publikasi 2015–2025. Temuan menunjukkan tiga fungsi utama pendidikan perdamaian dalam PAI: (1) fungsi transformatif-epistemologis, yang menggeser paradigma dari transmisi doktrinal menuju formasi karakter kontekstual-aksioologis ; (2) fungsi pedagogis-dialogis, yang mengoperasionalkan nilai perdamaian melalui metode partisipatif, studi kasus, dan refleksi kritis ; (3) fungsi sosial-kultural, yang memposisikan PAI sebagai instrumen kohesi sosial dalam masyarakat pascakonflik dan multikultural . Kontribusi teoretis utama adalah perumusan kerangka Peace-Oriented Islamic Education yang mengintegrasikan nilai tawasuth, tasamuh, dan tawazun dengan pedagogi kritis dan literasi digital. Implikasi praktisnya adalah perlunya reposisi PAI dari mata pelajaran doktrinal menjadi laboratorium harmoni sosial yang membekali peserta didik dengan kompetensi dialogis untuk hidup bersama dalam perbedaan.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Khatulistiwa: Jurnal Ilmu Pendidikan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.










