Mekanisme Ketahanan Sosial Pesantren dalam Menangkal Radikalisme: Sebuah Tinjauan Sistematis

Authors

  • Fathan Tamam Wirawan Universitas Pendidikan Indonesia

Keywords:

pesantren, ketahanan sosial, radikalisme, moderasi beragama, tinjauan sistematis

Abstract

Pesantren sebagai institusi pendidikan Islam tertua di Indonesia menghadapi posisi ambivalen: di satu sisi dituduh sebagai lahan subur radikalisme, di sisi lain berfungsi sebagai benteng moderasi Islam. Tinjauan sistematis ini bertujuan memetakan mekanisme ketahanan sosial pesantren dalam menangkal radikalisme berdasarkan literatur yang terpublikasi dalam rentang 2015–2025. Menggunakan protokol PRISMA 2020, penelusuran dilakukan pada basis data Scopus, Web of Science, dan Garuda dengan kata kunci terkait pesantren, radikalisme, moderasi beragama, dan ketahanan sosial. Temuan menunjukkan tiga mekanisme utama ketahanan sosial pesantren: (1) mekanisme kultural-teologis melalui internalisasi nilai tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i‘tidal yang bersumber dari tradisi Ahlussunnah wa al-Jama‘ah dan kajian al-kutub al-mu‘tabarah; (2) mekanisme sosial-komunal melalui otoritas kiai sebagai figur sentral, ikatan sosial berbasis sanad keilmuan, dan tradisi musyawarah yang memperkuat kohesi komunitas; (3) mekanisme institusional-adaptif melalui integrasi nilai kebangsaan, literasi digital, dan kurikulum moderasi yang responsif terhadap tantangan kontemporer. Kontribusi teoretis utama adalah perumusan model Tripartite Pesantren Resilience yang mengintegrasikan dimensi kultural-teologis, sosial-komunal, dan institusional-adaptif sebagai fondasi ketahanan pesantren. Implikasi praktisnya adalah perlunya reposisi pesantren sebagai mitra strategis dalam pencegahan radikalisme, bukan sebagai objek kecurigaan, dengan pendekatan pembinaan berbasis risiko yang proporsional, persuasif, dan kolaboratif.

Downloads

Published

2025-08-31

How to Cite

Mekanisme Ketahanan Sosial Pesantren dalam Menangkal Radikalisme: Sebuah Tinjauan Sistematis. (2025). Khatulistiwa: Jurnal Ilmu Pendidikan, 6(2), 103-117. https://jurnal.elkatarie.ac.id/index.php/khatulistiwa/article/view/857